Muslimah Menyambut Buah Hati

Oleh: dr. Sunardi

Dengan menyebut nama Allah, “Ya Allah, hindarkanlah kami dari gangguan setan dan hindarkan pula anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami dari gangguan setan.”

Demikian doa sepasang suami istri yang memulai serangkaian proses panjang dalam menyambut datangnya sang buah hati. Doa ini bermakna bahwa anak bukanlah proses yang terjadi begitu saja, tetapi mempunyai tujuan ibadah. Karena bermakna ibadah, maka tata cara yang harus dipenuhi hendaknya sesuai dengan cara yang dilakukan Nabi Muhammad.

Proses-proses yang berlangsung di dalam rahum sangat mencengangkan. Satu-satunya panduan embriologi yang telah dikabarkan Nabi Muhammad melalui ayat-ayat suci Al-Quran, mendahului temuan ilmuah di dalam bidang reproduksi modern. Baca lebih lanjut

Download Kajian “Bila Cinta Terhalang Restu Orang Tua”

Masalah dengan orangtua. Inilah yang sering dihadapi pemuda-pemudi yang ingin menikah. Ada sahabat-sahabat kita, yang sangat bersemangat. Mereka ingin menyempurnakan separuh agamanya, dan kemudian harus memendam perasaan sedih bahkan kadang seperti tak ada harapan lagi ketika orangtua tidak merestui.

Jadi, jika hari ini engkau mengeluh, sesungguhnya ada banyak orang yang menghadapi masalah yang sama. Engkau tidak menghadapi masalah sendirian. Ada banyak sahabat-sahabat kita yang juga butuh tempat untuk menuntaskan masalahnya yang sangat berat, dan barangkali malah lebih berat daripada yang engkau hadapi saat ini. Baca lebih lanjut

Download Kajian “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah”

artworks-000072230905-7u25we-t200x200Kajian “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah” bersama Mohammad Fauzil Adhim. Re-upload dari SoundCloud Muhammad Syahid Sundana

Isi pembahasan:

  • Meminang Dalam Pandangan Syariat
  • Meluruskan Pandangan Tentang Mahar
  • Walimatul ‘Ursy Dalam Syari’at Islam
  • Aktivitas Dakwah Muslimah Setelah Menikah
  • Peran Istri Sholihah Mendukung Aktivitas Da’wah Suami
  • Nikah Beda Harokah, Bagaimanakah?

Link Download
(19 MB)

Pembahasan lebih lengkap seputar topik, bisa dibaca di buku “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah” karya Mohammad Fauzil Adhim. Pemesanan: Redaksi IMFB atau SMS: 0853 7698 0525. Semoga Allah ridha.

Bercandalah Dengan Istri

Sebagai seorang Muslim yang juga memiliki istri, maka tidak sepatutnya seorang suami menghabiskan waktunya kala di dalam rumah tidak dalam rangka membina hubungan bermutu antara suami dan istri.

Rasulullah adalah contoh terbaik untuk diteladani para suami. Beliau meskipun sibuk mengurusi kepentingan umat, kala di dalam rumah bersama istri beliau tampil sebagai sosok yang romantis dan sangat lemah lembut terhadap istrinya.

Bahkan beliau menyempatkan waktu bercanda bersama istri, tentu dengan candaan yang tetap penuh adab, kesopanan dan keluhuran akhlak.

Beliau sangat sayang, cinta dan penuh perhatian kepada istri-istrinya. Bahkan beliau tidak pernah dalam sehari pun tidak mencium istrinya. Subhanallah. Baca lebih lanjut

3 Bekal Mengasuh Anak

1. Rasa takut terhadap masa depan mereka.

Berbekal rasa takut, kita siapkan mereka agar tidak menjadi generasi yang lemah. Kita pantau perkembangan mereka kalau-kalau ada bagian dari hidup mereka saat ini yang menjadi penyebab datangnya kesulitan di masa mendatang.

Berbekal rasa takut, kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupan dengan kepala tegak dan iman kokoh.

Sesungguhnya di antara penyebab kelalaian kita menjaga mereka adalah rasa aman.

Kita tidak mengkhawatiri mereka sedikit pun, sehingga mudah sekali kita mengizinkan mereka untuk asyik-masyuk dengan TV atau hiburan lainnya. Baca lebih lanjut

Kalau Sudah Nikah Tidak Perlu Canggung

Di sela-sela surat Al Baqarah ayat 187 ada frase ayat yang menarik. Sebuah perumpamaan yang Allah buat untuk hubungan antara suami dan istri.

“Hunna Libaasul lakum wa Antum Libaasul Lahunna..” (QS. 2:187)

“Mereka (istri) adalah pakaian untuk kalian dan kalian adalah pakaian untuk mereka..”

Karena penasaran dengan makna perumpamaan diatas maka saya buka buku tafsir favorit saya, Aisarut Tafasir. Disitu saya temukan perkataan menarik dari Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi ketika beliau menjelaskan ayat tersebut. Kira-kira begini terjemahan dari ucapan beliau:

“Lelaki tidak perlu canggung kepada istrinya, pun istri juga tidak usah malu-malu kepada suaminya. Lelaki menjadi pelindung bagi istri dan istri menjadi peneduh bagi suami sebagaimana baju yang menempel pada tubuh..”

So, kalau sudah ijab-sah, segera singkirkan rasa malu, canggung, pekewuh, ngga enakan, dan seterusnya. Limpahkan segala rasa dan tunjukkan cinta kepada pasangan. (Islamic Studies Center Online)